11 Februari 2009

Lagi musim lebay

5 komentar
Ada topik yang menarik buat saya, di Intisari bulan Februari ini. Judulnya “Ramai-ramai jadi Wartawan Warga”. Citizen journalism, bahasa kerennya. Artikelnya bercerita tentang warga biasa, yang bukan berprofesi wartawan, yang kini juga mulai menulis dan melaporkan apa yang terjadi di sekitar mereka pada orang lain. Warga biasa kini bukan lagi sebagai pihak pasif yang menerima informasi, namun sudah sebagai pihak aktif yang juga mulai menulis dan menyebarkan berita.

Fenomena ini, tentu saja berkat perkembangan internet. Dalam Intisari sendiri, dicontohkan bahwa peristiwa bom yang terjadi di Mumbai beberapa bulan lalu dapat segera menyebar luas dari situs Twitter yang diakses melalui HP oleh salah satu anggota komunitas Twitter.

Media lain untuk citizen journalism ini adalah blog, pastinya. Sudah berapa juta orang di dunia ini yang punya blog? Saya baru beberapa bulan lalu, benar-benar tahu dunia blog. Surprise karena ternyata saya menemukan ada anak kecil yang sudah punya blog, seperti TheZiehan, yang umurnya baru 13 tahun. Dibandingkan dengan ketika saya masih umur segitu, paling banter saya main tamagochi. Geleng-geleng kepala, ketika blogwalking, tenyata ada banyak blog yang hanya copas sana-copas sini. Setidaknya, untuk mengikuti tren atau meningkatkan page rank web nya ya??? Terkesima, karena banyak blog yang tulisannya bagus, walau mereka bukan penulis professional. Salah satunya, ini atau teman saya ini yang saya suka gaya tulisannya. Saya sendiri? Ah, saya sih cuma menulis apa yang saya tulis dengan bahasa apa adanya saya… Belum pintar ‘bermain’ kata. Sealiran dengan teman saya ini. Senang juga blogwalking, karena juga menemukan media tulisan sehari-harinya penulis-penulis professional, seperti miliknya, dan miliknya.


Back to Twitter, saya sendiri nggak punya account Twitter, karena saya sudah punya account di micro blogging yang mirip dengan Twitter, yaitu Plurk. Awal pengin punya Plurk, saya lihat dari blog ini. Saya pikir Plurk itu apa dan ngapain… ternyata, we must share what we are doing to the world….Hahahaha2 . Lebay ya… belum lagi, ketika awal saya punya Plurk, saya masih males dan binun mau nulis apa, akhirnya saya biarin aja tuh Plurk nganggur. Eh, ternyata ada mbah karma nya juga, yang ngamuk kalau absen ngeplurk sehari aja. Saya memang tidak (atau belum?) seperti Wening yang sudah menganut tag line Plurk, put your life on the line, dalam hidupnya. Hahaha2. Saya jadi inget semalam di tret milik Wening, dia bilang kalau pacarnya habis membuatkannya account Telkomsel Flash plus rekeningnya yang juga jadi tanggungan pacarnya, karena sang pacar merasa kasihan pada Wening dan mengatakan “aku kasian ma kamu, kayanya kamu nggak bisa sehari aja hidup tanpa ngeplurk …”. Wakakakkawww .

Sebelum saya tahu Plurk, sebenarnya sudah ada fasilitas shoutout di Friendster (FS) yang juga bisa memberi tahu pada dunia apa yang sedang kamu rasakan, sedang kamu pikirkan atau apa yang sedang kamu lakukan… tapi, karena tidak ada fasilitas memberikan komentar , yang akhirnya bisa jadi ajang cela-celaan, ajang gossip, ajang curhat, maka fasilitas ini tampaknya nggak laku di FS. Beda dengan saingan FS yang makin berjaya, Facebook (FB), yang menyediakan fasilitas ini, maka status “What are u doing at the moment” milik FB, lebih eksis. Begitu pula dengan comment foto di FB, yang ramai banget, karena ada tambahan fasilitas tag. Padahal FS juga punya fasilitas photo comment, tapi sepi-sepi saja tuh. Apa cuma karena fasilitas tagnya saja yang membuat FB lebih ‘juara’? Saya rasa bukan itu ya, bagi saya yang istimewa adalah News Feed yang ada di Home milik kita. Karena semuanya update milik teman kita akan dengan segera diumumkan disitu. Tanpa harus ngeklik apa-apa lagi, kita sudah testi teman kita satu sama lain, contoh : Sierra wrote on Lia's wall: Ayo, kapan kita jalan-jalan?, beda dengan update FS yang harus diklik lagi, contoh. Lia received new comment (buat tahu apa komen yang ada di pagenya Lia, kita harus ngeklik lagi).
Sedangkan FB sekali klik saja sudah bisa mencela, memuji, mengomentari teman, tanpa harus masuk ke page na teman. Cukup dari News Feed yang ada di Home account FB kita (otomatis kelebihan yang dimiliki FB ini juga jadi kekurangannya karena terlalu 'ember' bgt, makanya jangan nulis gosip yang aneh-aneh disini ya). Red bubble mark notifications FB yang bikin risih kalau nggak diklik juga membantu kita terupdate terus dari komen foto-foto yang ada tag kita, atau status kita atau milik teman kita yang kita komentari. Beda dengan FS yang new messages, new testimonial nya yang nggak punya “tanda yang bikin risih dilihat kalau nggak diklik”. Keistimewaan FB lainnya adalah tampilan FB yang sederhana membuatnya mudah diakses di HP, dan nggak membuang pulsa banyak, dibanding FS. Saya sendiri merasa lebih punya ikatan batin lebih kuat dengan teman-teman saya, dengan account FB yang saya buat, dibanding dengan FS. Satu-satunya yang membuat saya kurang nyaman di FB adalah applications invitation yang terlalu banyak, kuis ini, kuis itu, game ini, game itu....

OK, mumpung sekarang narsis dan lebay nggak dilarang, silahkan saja mengikuti tren ini, apalagi kalau bisa memberikan informasi yang berguna juga buat yang lainnya, nggak ada salahnya kan??!

There are no accidents

2 komentar
Bukan suatu kebetulan jika saya tanpa sengaja membaca catatan harian milik karyawan lama di kantor saya yang seharusnya tidak ditulis di buku kantor yang milik publik (akibatnya, saya menemukan nya dan membacanya)… Mbak Anik, sebutlah nama nya begitu, menulis tentang ajaran tentang kebetulan yang ada di Kungfu Panda. Ajaran moral dalam judul posting ini. Mbak Anik kemudian bercerita tentang betapa ‘kebetulannya’ saat itu mau nonton film animasi yang biasanya dia hindari. Suatu ‘kebetulan’ yang ternyata membuat dia memberi judul pada tulisannya “Anik ada bukan karena kebetulan” (Hmm, krisis pede ternyata bukan hanya milik saya wink ).


Begitu saya membaca itu, saya jadi ingat peristiwa dua minggu lalu. Peristiwa sederhana, tapi cukup membuat saya sadar akan anugerahNYA yang telah DIA atur sedemikian rupa. Sabtu dua minggu lalu, saya sempat salah membaca tanggal tes di sebuah bank. Tes tulis Perbankan. Entah, karena saya begitu paniknya dengan tes dengan materi asing yang belum pernah saya coba sebelumnya (Hmm, berkali-kali ikut tes di berbagai bank, baru ini pengalaman pertama saya ikut tes tulis Perbankan), atau karena saya memang sedang jenuh-jenuhnya dengan keadaan psikologis saya yang sudah jadi pengangguran hampir setahun, maka Jumat malamnya, saya sudah prepare belajar tentang perbankan, googling materi perbankan, dan banyak menemukan materinya di sini. Setelah ngeprint, saya mencoba belajar materi-materi itu. Esoknya, untuk memastikan tanggal tesnya, saya membuka amplop pengumuman tes yang diberikan pihak bank pada saya. Dan, ternyata, tulisannya adalah hari Sabtu, 7 Februari 2009. Bukan Sabtu, 31 Januari 2009. Oo oo… itu kan masih seminggu yang lagi. Perasaan saya sedih malah saat itu. Saya ingin segera menyelesaikan segala tahapan tes ini. Agar segera bisa mengetahui jawaban tentang tahapan hidup saya yang satu itu.

Jumat, 6 Februari 2009, telepon rumah saya mati. Tak ada nada sambung sama sekali. Jadilah, nasib koneksi Speedy saya mati. Hhh..padahal saya besok pagi harus tes tulis perbankan. Ya, saya baru sadar atas jadwal yang telah Allah atur untuk saya. Terima kasih, Allah…untunglah saya sempat salah tanggal minggu lalu, sehingga saya sudah menyiapkan semua materinya. Dan Alhamdulillah, materi tes juga banyak diambil dari website yang sama. Saya yang seminggu sebelumnya menertawakan ketololan diri saya sendiri, sekarang malah sangat bersyukur atas ketololan saya tersebut. Pasti bukan suatu kebetulan kalau saya salah baca tanggal tes, dan telepon rumah saya tiba-tiba mati.

Contoh lain, sudah menjadi rahasia publik jika proses rekrutmen di hampir semua perusahaan pasti ada ‘titipan’ nya. Mau dibikin setransparan mungkin, rasanya pasti akan selalu ada orang titipan di perusahaan tersebut. Berkali-kali ikut tes di berbagai perusahaan, saya sudah tak heran lagi dengan kejadian itu. Kasak-kusuk pasti selalu ada. Omongan negatif jika ada yang ketahuan ‘titipan orang dalam’ yang berhasil lolos, tak mungkin dihindari. Saya sendiri dulu juga suka sebal dengan orang-orang yang seperti itu, tapi sekarang saya makin percaya bahwa kalau memang itu jalan rezeki bagi mereka, ya memang sepantasnya mereka mendapatkan pekerjaan tersebut, walau dengan ‘jalan nitip’. Bukan suatu kebetulan, kalau punya kenalan, saudara ‘orang dalam’, jika memang jalan pintu rezeki mereka dari sana. Asal bukan pakai suap-menyuap, masih sekedar nepotisme, masih bisa dimaafkan, bagi saya. Karena ada bukti lain juga, bahwa ada beberapa teman saya yang ‘nitip’ ke suatu perusahaan, tapi nyatanya dia tidak diterima. Berarti memang bukan rezeki dia. Walau sudah ‘nitip, eh, masih gagal juga….

Bukan suatu kebetulan juga yang pasti, kalau saya baru diterima kerja setelah 9 bulan menganggur (Waks, lama ya??! ). Karena ternyata, Allah menunggu mental pekerja saya tumbuh terlebih dahulu. Hahahaa
….ya, saya bukan orang yang cukup rajin. Untuk pekerjaan rumah saja, saya mau mencuci seminggu sekali baju-baju saya yang saya anggap lumayan bagus, manually by myself, walau ada pembantu di rumah saya. Pekerjaan rumah lain? Yah, paling saya cuma merapikan, membersihkan, menyapu, mengepel kamar saya sendiri. Hahaha… Maka, bukan suatu kebetulan, kalau 2 bulan terakhir, pembantu saya itu harus pulang kampung dan resign selamanya, karena melahirkan anak pertamanya. Maka, jadilah 2 bulan terakhir ini, saya jadi “Pembantu Rumah Tangga” di rumah saya sendiri, selama saya masih menganggur. Lumayan, mental pekerja saya sudah mulai tumbuh. Sudah bukan mental Direktur lagi, mengutip apa yang sahabat saya katakan. Wis gelem soro (sudah mau susah).

Ya, semuanya memang sudah diatur. Tak ada yang kebetulan. Allah sudah punya jadwal, lengkap dengan detik, menit, dan jam nya apa dan kapan DIA akan berikan nikmat pada hamba NYA. Dan apa yang kita anggap terbaik bagi kita, belum tentu bagi Allah, tapi tidak sebaliknya. Semua akan tiba dan indah pada waktunya.

I love u so much, Allah…

02 Februari 2009

Dikejar atau mengejar mimpi?

3 komentar

Dikejar...

Mimpi...

Berlari....

Mengejar....

Mimpi....

Dikejar....

Berlari...

Mengejar...

Tak berhenti...
 

My PLayGround Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipietoon | All Image Presented by Online Journal


This template is brought to you by : allblogtools.com | Blogger Templates